Sunday, January 07, 2018

Menikmati Sensasi Kota Mini Parepare

Story by. Ahmad Yani Hasti

Arti perjalanan bukan hanya tentang berbagi foto selfie terbaik di sosial media. Sehingga anda menjadi kecil hati, saat melihat orang lain berfoto di luar negeri, dengan latar belakang pemandangan yang menakjubkan. Hargai apa yang anda miliki, termasuk tempat-tempat yang didiami dan sering dikunjungi. Juga terutama pada tempat yang memberikan arti penting bagi eksistensi anda.

Misal Parepare yang menjadi inspirasi kisahku pada kesempatan ini. Di kota kecil ini saya dilahirkan, meski tidak menetap di Parepare, saya menghabiskan banyak waktu di sini. Mulai di masa taman kanak-kanakku hingga jadi pelajar sekolah menengah. Tapi tahukah anda dimana tepatnya Kota Parepare? Kawan atau kerabat yang tinggal di luar pulau Sulawesi pasti banyak yang bingung atau keliru menebaknya.

Parepare memang belum dikenal khalayak ramai. Tidak segemerlap Las Vegas, tidak sesibuk New York, tidak secanggih Tokyo, namun tidak juga menjadi wilayah perebutan seperti Yerusalem. Namanya hampir tidak terdengar di media nasional manapun.

Cara sederhana menikmati udara malam Kota Parepare, yah nongkrong di warung kopi. Obrolan hangat di warkop sering membuat lupa waktu. Bersama ponakanku, Siti Hajar Hasti, kami menikmati kopi di salah satu warkop Parepare, Sabtu (6 Januari 2018). Foto: Ahmad Yani Hasti,
Model: Siti Hajar Hasti, Lokasi: Rumah Kopi Sweetness, Soreang, Parepare
Parepare selama beberapa dekade telah menjadi jembatan perekonomian yang menghubungkan Kota Makassar dengan daerah-daerah di bagian utara Sulawesi Selatan. Meski belum terkenal, bukan berarti Parepare tidak memberi catatan penting sama sekali bagi perjalanan sejarah Indonesia. Saat memasuki wilayah Kota Parepare, pengunjung pun akan disambut gapura selamat datang bertuliskan, “Di kota ini lahir pemimpin bangsa Presiden RI ke-3.”

Di Parepare inilah Bacharuddin Jusuf Habibie dilahirkan dan menghabiskan masa kecilnya. Dialah presiden yang juga dianggap sebagai salah satu manusia tercerdas di Indonesia berkat IQ-nya yang tinggi. Temuannya yang dinamai Teori, Faktor, dan Metode Habibie, awalnya populer di Jerman kemudian dalam kurun waktu tertentu, teknologi dunia penerbangan ini ikut melesatkan namanya di seluruh dunia. Salah satu yang populer adalah Crack Progression Theory (Teori Keretakan) miliknya.

Prestasi Habibie menyiratkan suatu gagasan bahwa bukan tempat yang membuat orang kecil tapi diri mereka sendiri. Parepare mungkin hanyalah kota kecil, bahkan sebelum dipadati penduduk dulunya hanya semak belukar, tapi kesuksesan Habibie adalah bukti kita bisa berhasil kemana saja. Walau tengah meraih sejumlah predikat, orang bijak tidak pernah lupa darimana mereka berasal. Di sela-sela kesibukannya di luar, Presiden BJ Habibie pernah beberapa kali mengunjungi kota kelahirannya ini. Kunjungan tersebut adalah wujud kebanggaan Habibie pada Parepare. Kebanggaan yang sama yang juga saya rasakan.

Cara Terbaik Menikmati Pesona Parepare

Jadi kenapa Parepare? Kenapa tidak, itulah jawabanku. Setelah anda berhasil memaknai nilai setiap tempat, tidak butuh waktu lama untuk anda bisa turut menikmati keindahan Parepare. Tidak ada yang menyangka waktu bisa saja membuat anda berkunjung kemari. Anda tak perlu risau, bahkan seharusnya berlibur di sini bukanlah kekeliruan. Karena walaupun Parepare kota mungil, menurut saya ada beberapa rutinitas menarik untuk dilakukan di sini. Sebagai pertimbangan, saya sengaja berkeliling Parepare selama sehari, dari pagi hingga malam larut, pada Sabtu (6 Januari 2018), ditemani ponakan saya, Siti Hajar Hasti untuk membuat daftar berikut.

Kelapa muda adalah satu jenis minuman yang banyak dijajakan di kedai-kedai minum di Parepare. Memang rasanya juara. Sabtu (6 Januari 2018). Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Siti Hajar Hasti
Lokasi: Pantai Pasir Putih Tonrangeng, Parepare

Lari Pagi di Tonrangeng Riverside

Iklim tropis adalah salah satu daya tarik wisatawan asing ke Indonesia, tapi justru sebagian besar orang di Indonesia suka mengeluh kepanasan. Maka cara terbaik menikmati udara dan matahari langsung adalah di pagi dan sore hari. Berlari pagi di Tonrangeng Riverside lantas jadi pilihan menarik bagi saya. Alasan pertama, lari pagi adalah olahraga paling efektif untuk menurunkan atau menjaga berat badan. Lari pagi juga efisien karena akhirnya anda tidak perlu banyak alat bantu.

Alasan kedua, pilihan di pagi hari membuat mata anda melihat keindahan Parepare seutuhnya. Lebih bersih. Tak sedikit orang Indonesia memandang bersih hanya sebatas rumah, kebersihan di luar belum menjadi perhatian serius. Anda mungkin tidak ingin tahu siapa? Tapi terima kasih kepada petugas kebersihan yang membuat setiap pagi dengan pemandangan lebih indah. Di sini, jembatan bernama Tonrangeng Riverside itu telah menjadi ikon baru di Parepare. Desain yang cukup modern, dan di sekitarnya terlihat perbukitan dengan tanaman hijau yang bertumbuh subur. Terdapat pula sungai dan pemandangan laut, juga udara segar yang menemani aktivitas pagi anda di sini. Di sebelahnya terdapat pasar, di sini anda mungkin bisa membeli sesuatu untuk dimakan.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Siti Hajar Hasti,
Sabtu (6 Januari 2018) - Lokasi: Tonrangeng Riverside, Parepare

Lanjut ke Pantai Paputo

Pantai Paputo adalah istilah dari efek bahasa kekinian remaja yang suka menyingkat-nyinkat. Entah cuma aku atau sebenarnya masih banyak orang sini yang belum familiar dengan nama ini. Tapi jika anda menyebutnya lengkap Pantai Pasir Putih Tonrangeng, akan lebih mudah bagi penduduk lokal membantu anda mengidentifikasi tempat ini. Bagi kamu penikmat pantai, Paputo menjadi salah satu rekomendasi saya di Parepare. Hamparan pasir putih yang cukup halus, dibarengi perhatian serius pengelola dalam menjaga kebersihan pantai tersebut. Juga dilengkapi desain menyerupai destinasi wisata pantai di Bali dengan mebel warna-warni yang menarik. Plus tempat dengan menu makanan dan minuman yang beragam.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Siti Hajar Hasti,
Sabtu (6 Januari 2018) - Lokasi: Pantai Pasir Putih Tonrangeng, Parepare

Mencari Sesuap Nasi

Saya bukan bermaksud mencari nafkah tapi ini murni panggilan rasa lapar di siang hari. Nah, sebenarnya tidak sulit mencari makan di Parepare. Ada banyak pilihan tempat. Berbagai jenis makanan juga bisa ditemukan di sini. Kamu yang suka makanan dari olahan sagu, kamu bisa coba makanan bernama kapurung, atau makanan dari sagu lainnya di warung yang menyajikan makanan khas Luwu dan Palopo. Ada bakso atau makanan-makanan lainnya yang berbahan dasar mie. Makanan dari berbagai penjuru daerah seperti pempek, batagor, ketoprak, dan soto banjar juga ada. Terdapat beberapa kedai makan populer seperti Kedai Mini Rasa, Rumah Makan Pak To, Warung Sarinah, Warung Sedap, Ayam Penyet Ria, Ayam Penyet Pak Tjomot, MJ Food and Drink, dan Sabar Menanti. Tempat kegemaranku yaitu Nasi Kuning Sungkono, Warung Sate Madura Ajenrem, dan Warung Coto Paraikatte. Bahkan ketika lidah anda cukup rewel pada makanan tertentu, waralaba berslogan “Jagonya Ayam” juga sudah lama hadir di sini.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Siti Hajar Hasti,
Sabtu (6 Januari 2018) - Lokasi: D'Carlos Cafe and Resto, Parepare
Meski banyak pilihan, tentu saja, saya masih seperti orang Indonesia kebanyakan. Belum makan nasi berarti belum afdal. Makanan berat apapun tanpa nasi rasanya seperti cemilan saja, ujung-ujungnya dihantui rasa lapar lagi. Untuk sajian berupa nasi, anda bisa menjatuhkan pilihan pada D’Carlos Café and Resto. Tempat ini selalu bisa diandalkan pendatang. Jujur, saya sendiri jarang mengunjungi tempat ini, karena menunya lebih mirip makanan yang disajikan di rumah saya. Untuk pribadi saya tidaklah spesial. Tapi memang tempat ini sangat layak untuk mereka yang senang jajan di luar, juga untuk para pendatang. Tidak banyak tempat di Parepare yang memiliki bangunan dengan desain dan interior yang ramah di mata, lokasi yang strategis, dengan tempat plus wastafel dan toilet yang bersih. Variasi menunya juga banyak, terutama menyajikan lauk-pauk dan kue-kue khas Sulawesi Selatan, cocok untuk melengkapi deret perjalanan kuliner kamu. Selain itu, rasa pas mantapnya dan harga pas iritnya.

Sabtu (6 Januari 2018), saya kembali mengajak ponakanku, Siti Hajar Hasti, berlari di Lapangan Andi Makassau, Parepare. Tempat yang sangat ramai dikunjungi di Parepare saat senja dan malam hari. Waktu kami datang ke sana, lapangan ini masih lengang, kami tiba terlalu dini dan memang cuaca tidak begitu bersahabat. Beragam aktivitas biasanya dilakukan saat Warga Parepare dan pendatang mampir kemari. 

Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun

Bukan hanya Presiden Habibie yang menyimpan kebanggaan terhadap Parepare. Kota ini juga bangga memiliki orang cerdas sepertinya. Ditunjukkan pada gapura yang menyambut anda saat memasuki wilayah Parepare. Tapi bukan hanya populer karena cerdas dan pernah sebagai kepala negara saja, dia juga dikenal sangat romantis dan menyayangi isterinya, Hasri Ainun Besari. Kisah asmara mereka pernah diabadikan ke dalam film. Tidak ketinggalan, Parepare juga membangun monumen yang dinamakan Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun untuk mengabadikannya. Monumen ini ditempatkan di Lapangan Andi Makkasau, salah satu pusat hiburan utama Parepare. Usai makan siang, saya pikir anda boleh coba datang kesini. Memiliki magnet tersendiri, tempat ini selalu ramai saat senja dan malam hari. Beragam aktivitas seperti nongkrong, jajan, permainan dan olahraga bisa anda lakukan di sini. Banyak yang datang sekadar berfoto di depan monumen, bermain sepak bola di lapangan, berlari di sekitarnya, terapi rematik, dan masih banyak ragam kegiatan lainnya.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Siti Hajar Hasti,
Sabtu (6 Januari 2018),
Lokasi: Monumen Cinta Sejati Habibie-Ainun, Lapangan Andi Makkasau, Parepare

Nongkrong di Warung Kopi

Entah di daerah mana saja, tapi di Parepare dan sekitarnya, orang-orangnya seperti menganggap merokok ibarat bahasa yang menyatukan. Ini tidak berarti saya berusaha mengkampanyekan rokok. Saya sendiri tidak merokok untuk alasan kesehatan. Namun sebagian besar pria di Parepare, baik remaja dan lebih matang, menjadikan rokok sebagai media untuk bergaul. Saat nongkrong di suatu tempat, mereka selalu berbagi rokok dengan teman yang ditemui. Sepelit-pelitnya orang yang saya kenal, belum ada yang menolak berbagi rokok dengan kawanan mereka. Lewat rokok, orang-orang ini jadi lebih santai dan leluasa dalam berbagi pikiran. Berkumpul, mengobrol dan rokok sepertinya hal yang tidak bisa dipisahkan dari mereka. Tidak heran, kafe atau warung kopi (warkop) juga tumbuh subur di kota ini. Warkop jadi tempat ideal untuk nongkrong. Ini kegiatan yang digemari di malam hari. Menikmati pergantian waktu di warkop, menyeruput dan menikmati secangkir kopi, dengan tebaran asap mengepul menghampiri langit-langit bangunan, serta riuh obrolan hangat pengunjung warkop.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Siti Hajar Hasti,
Sabtu (6 Januari 2018) - Lokasi: S3 Box Coffee, Parepare
Ada banyak alternatif warkop untuk kamu pilih. Mulai dari warkop dengan dekorasi yang cukup berkelas, instagramable, hingga warkop dengan tampilan sederhana tapi hidangan kopi dan suasananya cukup digemari. Tapi setiap kafe atau warkop juga menyajikan minuman lain serta aneka cemilan untuk menarik pengunjung.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Siti Hajar Hasti,
Sabtu (6 Januari 2018) - Lokasi: Rumah Kopi Sweetness, Parepare

Wisata Menarik Sekitar Parepare

Indonesia yang kaya dengan panorama alamnya memberikan keuntungan yang sama bagi Parepare. Meski nantinya lokasi yang saya maksud ini tidak di Parepare, tapi kecilnya kota ini memberikan kemudahan untuk anda menjelajahi daerah-daerah sekitarnya. Ada beberapa tempat wisata alam yang bisa kamu tuju. Misalnya Pulau Dutungan di Kabupaten Barru, merupakan tempat wisata keluarga dimana kamu bisa melakukan kegiatan snorkeling, berenang, atau olahraga air lainnya. Lalu kamu juga bisa mengunjungi Celebes Canyon di Barru, merupakan ngarai dengan tebing bebatuan yang dialiri air dari Sungai Ule. Di sekitarnya pohon-pohon hijau tumbuh rimbun. Tempat ini belum begitu terjamah, jadi mungkin itu alasan mengapa pemandangan alam di sini tampil begitu indah dan menyegarkan mata. Paduan bebatuan, aliran sungai di tengah-tengah, dan diapit pepohonan hijau, wow, kenapa anda tidak mencoba untuk menghasilkan foto indah di sini?

Foto dua tahun kemarin (1 Januari 2016), bersama juniorku, Ansar Razak, saat menjelajahi Celebes Canyon di Barru untuk pertama kali. Pemandangan alamnya sangat menyegarkan dan memanjakan mata.
Foto: Ahmad Yani Hasti
Beranjak dari Barru selanjutnya kamu bisa mengunjungi Puncak Bila di Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap). Paduan pemandangan alam dengan pengelolaan wisata keluarga yang lebih serius. Terdiri atas area permandian waterboom, pelbagai wahana seperti flying fox, sepeda air, serta wahana lain yang juga secara khusus disediakan untuk bisa dinikmati anak-anak.

Jika saya bermain kata, kata saya untuk Parepare adalah kelahiran, Barru adalah rumah, maka kata saya untuk Sidrap dan Pinrang adalah Nasu Palekko. Dua kata itu saja yang sering terngiang-ngiang di kepalaku saat mengunjungi kedua kabupaten tersebut. Rasa dari Nasu Palekko telah membekas begitu dalam di pikiranku. Dan memang belakangan ini, Nasu Palekko kian populer dinikmati di Sulawesi Selatan. Jangan lewatkan perjalanan kuliner ini. Makanan khas Sidrap dan Pinrang ini aslinya berbahan dasar bebek/itik dengan cita rasa yang pedas. Kalau anda menemukan makanan ini dan akhirnya jatuh hati, sebaiknya hati-hati. Jangan berlebihan dan terlalu sering dikonsumsi, karena bebek/itik yang menjadi bahan dasarnya, nyatanya adalah bahan makanan yang tidak ramah bagi penderita kolesterol tinggi. Belum banyak warung yang menyajikan makanan ini pernah kukunjungi. Tapi saya akan merekomendasikan beberapa tempat ini karena berbagai pertimbangan seperti rasa, penyajian, dan harganya yang pas. Rumah Makan Donald milik Hj. Dabbo dan Gazebo di Sidrap, serta Reza Café di Parepare. Nasu Palekko di tempat-tempat ini saya suka karena matangnya tidak berlebih sehingga saya bisa merasakan tekstur daging bebek/itiknya di setiap gigitan. Juga terutama hidungku tidak terganggu lagi dengan bau amisnya. Dan jika racikan bumbu sudah pas, Nasu Palekko ini pun segera melesat nikmat pada kerongkonganku.

Monday, January 09, 2017

Travel to The World’s Second Largest Karst Landscape

Story by. Ahmad Yani Hasti


Let’s meet my new friend. His name is Farzad Besharat. He was born in Afghanistan and grew up in Pakistan. He has lived in Indonesia about three years. He says, “I will always love to stay in Indonesia”. Why not? There are a lot reasons why we should love Indonesia. One of all the reasons is that Indonesia has many beautiful places.

This Monday (January 9th, 2017), we are going to travel in Rammang-Rammang. We have planned this about a week and I am really excited about how wonderful this place looks.


Rammang-Rammang is a good place with all nature beauty, green scenery, where you can access the awesome Karst landscape in Maros and Pangkep Regency. Precisely in the north of Makassar, South Sulawesi, Indonesia, Karst Maros-Pangkep is only between 50-100 kilometers from Makassar City.


Covering about 43.750 hectares area, Karst Maros-Pangkep becomes the Second Largest Karst Landscape in The World. The Karst landscape is hilly with beautiful mountainous terrains.


Not only presenting a unique landscape, The Karst Maros-Pangkep is also having archeological sources of prehistoric caves and its heritage back to thousands of years ago. In this region, there are hundreds of caves with stalactites and stalagmites, of which 89 of them are prehistoric caves that contain prehistoric rock and ancient art painting.


As a unique natural habitat with its significant value and also important for biodiversity conservation, Karst Maros-Pangkep is a place that must be on travel list for nature lover. Lots of flora and fauna live in this place which makes it all the more beautiful and interesting to visit here.

Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat --- Monday (January 9th, 2017) at Rammang-Rammang, Maros, South Sulawesi, Indonesia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat --- Monday (January 9th, 2017) at Rammang-Rammang, Maros, South Sulawesi, Indonesia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat --- Monday (January 9th, 2017) at Rammang-Rammang, Maros, South Sulawesi, Indonesia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat --- Monday (January 9th, 2017) at Rammang-Rammang, Maros, South Sulawesi, Indonesia.
Photo by. Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat --- Monday (January 9th, 2017) at Rammang-Rammang, Maros, South Sulawesi, Indonesia.
Wefie time (Farzad Besharat and I) on Monday (January 9th, 2017) at Rammang-Rammang, Maros, South Sulawesi, Indonesia.

Rammang-Rammang: Akses ke Kawasan Karst Terbesar Kedua di Dunia

Story by. Ahmad Yani Hasti


Perkenalkan kawan baruku, Farzad Besharat. Dilahirkan di Afganistan dan dibesarkan di Pakistan. Besharat, begitu panggilannya, ketika kuajak mengunjungi suatu tempat, dengan senang hati dirinya bersedia menemani saya menjelajahi kawasan bernama Rammang-Rammang. Kawasan ini terletak di Desa Salenrang, Bontoa, Maros, Sulawesi Selatan. Tak ingin melewatkan keindahannya, Senin pagi sekali (9 Januari 2017), kami sudah bergegas menuju tempat yang menyajikan pemandangan hijau nan asri di tempat bernama Rammang-Rammang ini.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat,
Senin (9 Januari 2017) - Lokasi: Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan
Rammang-Rammang adalah salah satu akses yang menuntun anda memasuki Kawasan Karst Maros-Pangkep. Di Rammang-Rammang ini, kita akan menemukan dermaga yang menyewakan perahu untuk menyusuri sungai dan menyaksikan pemandangan Karst Maros-Pangkep yang menakjubkan. Karst ini terbentang luas diantara dua wilayah yaitu Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Tepatnya di sebelah utara Makassar, sekitar 50-100 kilometer dari Kota Makassar. Sebagian wilayah Karst Maros-Pangkep ditujukan sebagai area pertambangan, sebagiannya lagi ditujukan untuk area konservasi.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat,
Senin (9 Januari 2017) - Lokasi: Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan
Rammang-Rammang merupakan satu kawasan yang kelestarian alamnya masih terjaga dengan apik. Bebatuan yang terlihat di sini bukanlah bebatuan biasa. Disebut Karst dan terbentang di area lebih kurang seluas 43.750 hektar. Luasan ini menjadikan Karst Maros-Pangkep sebagai Kawasan Karst Terbesar Kedua di Dunia. Pemandangan Karstnya berbukit-bukit dengan daerah pegunungan yang indah. Pemandangan Karstnya unik dan luar biasa.

Tak hanya unik, Karst Maros-Pangkep memiliki sumber rujukan penelitian arkeologi berupa gua prasejarah dan peninggalannya yang berasal dari masa beribu-ribu tahun yang lalu. Di Kawasan Karst ini terdapat ratusan gua berstalaktit dan stalagmit. Sebanyak 89 diantaranya adalah gua prasejarah yang memiliki peninggalan berupa seni lukis kuno yang melekat pada dinding gua.

Berbagai fauna endemik dan beragam jenis flora juga tak ketinggalan menambah daya tarik Karst Maros-Pangkep. Bagi para pecinta alam, saya yakin akan mudah jatuh cinta dengan tempat ini.

Yang Perlu Dipersiapkan


Akses ke tempat ini boleh dikatakan memang tidak sulit. Tetapi sebenarnya juga tidak begitu mudah. Untuk mengakses beberapa tempat anda perlu menyusuri sungai dan menyewa perahu. Untuk sewa perahu saja, sudah harus merogoh kocek lebih dari seratus ribu rupiah. Belum termasuk pungutan resmi, pungutan liar, serta bayaran jasa yang mungkin harus anda keluarkan berkaitan dengan tempat-tempat yang anda kunjungi. Anda tentu tidak ingin mengatakan, “simpan saja kembaliannya!” setiap kali melakukan transaksi. Jadi, bawalah banyak pecahan rupiah dengan nominal rendah untuk menghindari pengeluaran yang tidak perlu.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat,
Senin (9 Januari 2017) - Lokasi: Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan
Selama perjalanan, kami berada di ruang terbuka. Jika tidak tahan panas, anda bisa membawa serta lotion penangkal radiasi matahari atau sunblock. Payung juga akan menjadi pilihan yang baik, terutama jika sewaktu-waktu mendadak turun hujan. Jangan lupa kacamata hitam untuk menghindari kontak langsung dengan sinar matahari.

Cara untuk ke Sana


Dari Makassar, anda bisa menggunakan transportasi umum seperti mobil mikrolet yang orang lokal sini menyebutnya pete-pete. Naiklah pete-pete jurusan Pangkep di area Sudiang. Mintalah supir pete-pete mengantar anda langsung ke lokasi Rammang-Rammang. Jika supir tidak mengetahuinya, anda bisa meminta supir menurunkan anda di Pertigaan Semen Bosowa. Setelah sampai, masuki jalur sebelah kanan pertigaan tersebut, anda bisa menggunakan ojek atau pete-pete untuk memasuki jalur itu. Turun tak jauh dari jembatan pertama di jalur tersebut, di sana terdapat spanduk selamat datang dan dermaga yang akan mengantar anda menjelajahi Rammang-Rammang.

Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat,
Senin (9 Januari 2017) - Lokasi: Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan
Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat,
Senin (9 Januari 2017) - Lokasi: Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan
Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat,
Senin (9 Januari 2017) - Lokasi: Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan
Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat,
Senin (9 Januari 2017) - Lokasi: Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan
Foto: Ahmad Yani Hasti, Model: Farzad Besharat,
Senin (9 Januari 2017) - Lokasi: Rammang-Rammang, Maros, Sulawesi Selatan
Saya dan kawanku, Farzad Besharat, kami berfoto di salah satu puncak di Rammang-Rammang. Senin (9 Januari 2017), kami tak hanya mengambil beberapa gambar tetapi juga menikmati pemandangan dan udara sejuk di atas sini.

Ewako Visitors

Free counters!

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys